header-int

General Lectures: Women, Gender, and Islam

Posted by : Administrator
Share

GENERAL LECTURES: WOMEN, GENDER, AND ISLAM

Studi atau riset tentang maskulinitas dalam periode Pra-Islam Modern bisa menjadi alternatif penting dalam mendorong kita mengenal lebih dalam tentang keseteraan gender. Studi tentang hal ini juga akan mengalihkan perhatian kita pada konsep gender alih-alih sekadar tentang perempuan.

Demikian benang merah penyampaian peneliti gender dari Dartmouth College, Amerika Serikat, Zahra MS Ayubi, PhD pada Kuliah Umum ‘Women, Gender, and Islam’ yang diselenggarakan Pusat Kajian dan Pengembangan Peranan Wanita atau Gender dan Perlindungan Anak (PKPPWA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UPI, Jumat 7 Mei 2021.

Kuliah yang digelar secara virtual (zoom) tersebut dibuka oleh Kepala LPMM UPI Prof Dr Dadang Sunendar serta Kepala PKPPWA Vina Adriany, M.Ed , P.hD. Pembicara lain pada kuliah umum tersebut adalah Tutin Aryanti, Ph.D dengan moderator Dr Rd Safrina Noorman.

Zahra Ayubi adalah Asisten profesor studi agama di Dartmouth College. Dia berspesialisasi dalam filsafat feminis Islam dan telah menerbitkan karya ilmiah tentang konsep gender dari perspektif etika, keadilan, dan otoritas agama, dan tentang pemikiran feminis Muslim dan pengalaman perempuan Muslim Amerika. Dia menyelesaikan sarjana di Brandeis University dan Ph.D. dalam Studi Keagamaan dari UNC Chapel Hill.

Sementara itu, Tutin yang menyelesaikan sarjana dan magister di bidang arsitektur, Institut Teknologi Bandung meraih PhD di Sekolah Arsitektur Universitas Illinois di Urbana-Champaign, AS, dengan kajian mayor terkait Sejarah Arsitektur Masjid Asia Tenggara di Abad XXI dan kajian minor terkait Islamic Religious Feminism (2013). Ia memaparkan materi tentang ajaran Islam ‘menutup pandangan’ yang memiliki kaitan erat dengan sistem tata ruang dan arsitektur bangunan dalam tradisi muslim.

Zahra Ayubi yang menulis buku Gendered Morality: Classical Islamic Ethics of the Self, Family, and Society mengungkapkan, bahwa sumber kitab suci Islam menawarkan gagasan yang berpotensi radikal tentang kesetaraan. Namun para filsuf Islam abad pertengahan memilih untuk menetapkan etika kebajikan yang hierarkis dan berpusat pada laki-laki. “Harus ada perubahan filosofis dalam studi gender dalam Islam berdasarkan sumber daya untuk kesetaraan gender yang dibuka oleh keterlibatan feminis dengan tradisi etika Islam,” ujarnya.

Ia menawarkan pendekatan konstruksi maskulinitas dan hubungan gender dalam karya klasik etika filosofis. Dalam pembacaan teks-teks dasar oleh Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Nasir-ad Din Tusi, dan Jalal ad-Din Davani, ia meneliti bagaimana para pemikir ini memahami manusia etis sebagai laki-laki elite dalam kosmologi hierarkis yang dibangun di atas pengecualian wanita dan nonelite. “Maskulinitas yang merupakan konsep tentang laki-laki dan ‘kelelakian’ harus juga menjadi bagian dari teori akademik guna memahami gender itu sendiri,” katanya.

Dia juga menyerukan perubahan filosofis dalam studi gender dalam Islam berdasarkan sumber daya untuk kesetaraan gender yang dibuka oleh keterlibatan feminis dengan tradisi etika Islam.

Pandangan dan spasial
Sementara itu, dalam tuturannya Tutin Aryanti menegaskan, bahwa konsep ‘menurunkan atau menjaga pandangan’ bukan semata tindakan yang bersifat fisik. “Ia lebih bermakna politis. Kemudian, ketidaknampakan perempuan dalam ruang-ruang publik bermula dari konsep tentang aurat perempuan,” ujarnya.

Kesimpulan selanjutnya adalah bahwa ketidakhadiran perempuan dan ruang-ruang fisik yang diperuntukkan khusus bagi mereka bermula dari tiga hal. “Bisa karena penyembunyian fisik, preferensi apa yang boleh dan tidak boleh dilihat, serta pembatasan akses,” kata Tutin.

Lebih jauh disampaikan, di seluruh dunia, pandangan dikendalikan melalui penataan ruang sesuai dengan nilai-nilai budaya dan dalam rangka membangun perbedaan. Ruang diberi hierarki melalui apa yang diungkapkan dan apa yang tetap dibatasi untuk memberikan atau menolak akses fisik dan visual. “Dalam tradisi Islam, visi atau pandangan terhadap orang lain dikontrol dengan cermat dari tingkat individu hingga perkotaan. Islam menganjurkan pengendalian pandangan untuk menjaga kesucian hati,” katanya.

Dalam pemaparan tersebut, pandangan (gaze) dinilai sebagai konstruksi sosial yang melahirkan visibilitas dan invisibilitas perempuan di ruang publik Islam. Hal ini mengeksplorasi contoh pada kediaman pribadi, ruang terbuka publik, dan fasilitas umum seperti masjid. “Penguasaan pandangan dan visibilitas perempuan di ruang publik terkait erat dengan konsep aurat (bagian tubuh yang harus ditutupi), yang didefinisikan secara berbeda untuk perempuan dan laki-laki,” katanya.

Oleh: Syamsul Bachri
Sumber berita : https://deskjabar.pikiran-rakyat.com/jabar/pr-1131883541/kuliah-umum-pkppwa-upi-studi-maskulinitas-dalam-karya-klasik-islam-untuk-keseteraan-gender

LPPM Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung
================================================
Telpon / Fax: 022 2001908 - 2002007, posel : lppm[at]upi.edu
© 2022 LPPM Universitas Pendidikan Indonesia Follow LPPM Universitas Pendidikan Indonesia : Facebook Twitter Linked Youtube