header-int

Pembelajaran Taksonomi Harus Direvitalisasi agar Makin Menarik, Ini Pentingnya Taksonomi

Posted by : Administrator
Share

Kemunduran taksonomi di Indonesia sudah lama dirasakan. Sedikit sekali mahasiswa yang tertarik untuk mendalami keilmuan ini dan mencapai kepakaran.

Mereka menganggap taksonomi sebagai bidang ilmu yang membosankan dan tak berguna. Padahal, di sisi lain Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar yang belum diungkap dan dikaji sepenuhnya.

Untuk itu, harus dilakukan revitalisasi pembelajaran taksonomi baik di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Harus terus dimunculkan upaya melahirkan pakar-pakar taksonomi baru dan memopulerkan bidang keilmuan yang penting ini.

Demikian benang merah yang muncul pada FGD "Pembelajaran Taksonomi yang Menyenangkan”, yang berlangsung secara daring (webinar) pada Sabtu 31 Juli 2021.

Hadir sebagai pembicara kunci pakar botani dan taksonomi senior dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof. Mien Achmad Rifa’I, MSc, PhD, dengan tajuk "Pendekatan baru pendidikan sarjana botani: Penyiapan para taksonomiwan kader inventor pengembang manfaat keberagaman tetumbuhan Indonesia".

Hadir sebagai narasumber Dr. Bayu Adjie, M.Sc (Ketua PTTI, Kepala Kebun Raya Purwodadi), Prof. Topik Hidayat, PhD (Departmen Pendidikan Biologi, Universitas Pendidikan Indonesia), dan Dr. Budi Irawan, M.Si (Departemen Biologi, Universitas Padjadjaran) dengan Moderator Prof. (Dr. Fitmawati, M.Si Departemen Biologi, Universitas Riau).

Acara ini digagas oleh Penggalang Taksonomi Tumbuhan Indonesia bekerjasama dengan Departemen Biologi Universitas Padjadjaran, Departemen Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia, Dikhumsaintek LPPM-UPI, Departemen Biologi Universitas Riau, Kebun Raya Purwodadi LIPI, dan Pusat Penelitian Biologi LIPI. Kegiatan webinar diikuti oleh sekitar 800 peserta melalui aplikasi Zoom serta hampir 300 melalui streaming YouTube.

Dalam paparannya, Prof Mien menegaskan urgensi untuk memperbaiki bidang keilmuan taksonomi di Indonesia. Sudah banyak doktor dan magister di bidang biologi tapi bidang taksonomi masih begitu-begitu saja.

“Hal ini salah satunya disebabkan oleh pengkaderan yang minim. Mahasiswa masih dalam dalam belajar bidang ini. Kita banyak memiliki sarjana botani tapi kemudian seolah tidak memiliki kompetensi apa-apa karena seperti seorang sarjana murni. Mereka terlena karena hanya mengikuti apa yang diajarkan sebelumnya,” ungkap Prof Mien.

Beragam kesulitan menjadikan taksonomi kurang populer, bukan hanya di kalangan pelajar, tetapi juga di kalangan ilmuwan itu sendiri. Sebagai akibatnya, inventarisasi keanekaragaman hayati di Indonesia pun mengalami hambatan.

Perintis program studi taksonomi tumbuhan di Pascasarjana Institut Pertanian Bogor serta membantu pelaksanaan program studi keanekaragaman hayati di Universitas Indonesia ini  mengatakan bahwa minat taksonomi harus digiatkan.

“Sebetulnya, banyak kesempatan untuk menjadi taksonom. Ketika sudah dipercaya, banyak kesempatan penelitian dan kerjasama internasional yang bisa diraih,” ujarnya.

Dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi taksonom di Indonesia saat ini, satu hal yang bisa diupayakan adalah menambah jumlah reference collection. Dengan bertambahnya reference collection, lebih mudah bagi taksonom untuk melakukan penelitian taksonomi.

Sementara itu, dalam pemaparannya Dr. Bayu Adjie mengungkapkan bahwa keanekaragaman hayati (megabiodiversity) Indonesia sangat besar dan kaya. Akan tetapi masih belum banyak digali dan salah satunya karena lambannya pengembangan taksonomi.

Kenapa taksonomi penting, menurut Bayu, karena hal itu akan terkait dengan kurangnya informasi keanekaragaman hayati yang juga berdampak pada akses dan benefit sharing.

Lemahnya taksonomi juga akan berdampak pada kesalahan identifikasi yang dapat menyebabkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan. Demikian juga, konservasi akan kehilangan fokus dan tujuan.

“Bayangkan, dalam kurun 50 tahun lebih dari 1967 sampai dengan 2020, berapa banyak jenis-jenis baru keaneragaman hayati kita yang terungkap. Ternyata, yang sudah terdokumentasi baru 629 flora, 549 fauna, dan 55 mikro organisma. Padahal, kekayaan dan potensinya masih sangat besar dan belum tergali,” katanya menegaskan.

Sementara itu, Prof Topik Hidayat dan Dr. Budi Irmawan menguraikan secara aktraktif bagaimana mengemas pembelajaran menyangkut taksonomi ini dari mulai tingkat pendidikan dasar, menengah, hingga universitas.

Keduanya mengulas banyak pola pembelajaran yang semakin membuat siswa dan mahasiswa tertarik untuk mendalami bidang ini

Ditulis oleh Sarnapi, Jurnal Soreang Pikiran Rakyat
Lihat sumber berita

LPPM Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung
================================================
Telpon / Fax: 022 2001908 - 2002007, posel : lppm[at]upi.edu
© 2021 LPPM Universitas Pendidikan Indonesia Follow LPPM Universitas Pendidikan Indonesia : Facebook Twitter Linked Youtube